Sabtu, 20 Agustus 2011

konspirasi dibalik kematian kruget

Kematian Kruget yang misterius mulai terungkap. Terduga penyebab kematian sekarang bukan lagi depresi ataupun kurangnya oksigen. Tapi racun.

RACUN!

Jadi gini…

Tadi saat cari info tentang pestisida organik, saya teringat pada seorang Ibu guru yang saya temui saat jalan-jalan ke beberapa RS. Beliau sempat bercerita tentang beberapa jenis pestisida, ada kontak dan ada sistemik. Cerita beliau tak bisa saya simak serius karena kecantikan putrinya mengganggu konsentrasi. Tapi masih ada yang saya tangkap, pestisida kontak itu masih bisa dicuci sedangkan yang sistemik tidak, racunnya menjalar ke seluruh sistem tanaman.

Jadi saya pun tanya Google lagi. Dan dari situlah saya kebetulan menemukan tulisan Pak Nurtjahjadi. Beliau cerita tentang piaraan mahasiswanya yang punya nasib sesial Kruget.

Kenapa ulatnya mati semua? Mungkinkah ada perbedaan suhu dengan tempat nya semula ketika ulat itu diambil ? Mungkin juga ada faktor2 lain, kelembaban, cahaya, dsb ?

Selidik punya selidik, bayam yang dijadikan pakan ulat itu ternyata masih mengandung pestisida yang dosisnya cukup tinggi. Memang pestisidanya tidak meninggalkan bau. Tetapi, dengan kematian ulat2 tadi secara merata, maka dapat dipastikan, bahwa bayam yang segar tanpa lubang bekas gigitan serangga, itu sudah merupakan indikasi yang kuat bahwa sayuran itu masih mengandung bahan aktif pestisida yang berbahaya.

Maksudnya mulia memberikan makanan yang terbaik, ternyata malah meracuni sampai mati. Diduga kuat, tewasnya Kruget karena sebab yang sama. Keracunan pestisida.

Lalu konspirasinya dimana Guh?

Konspirasinya adalah… *NgarangModeOn* Para produsen pestisida, dengan ijin penguasa negara yang sama-sama berorientasi profit, menjual pestisida berbahaya pada para petani. Para petani yang nasibnya tidak dipedulikan oleh pemerintah, ditindas tengkulak dan ditekan pasar juga, terpaksa menambahkan racun ke sayuran mereka supaya panennya kelihatan bagus dan bisa dijual.

Berbahaya? Yang jelas berbahaya bagi bangsa ulat. Terbukti setelah dipetik, dibawa ke pasar, dipajang pedagang, dibeli dan dibawa pulang, sayur masih saja bersifat racun dan mematikan. Entah semengerikan apa efeknya bagi manusia. Yang pasti sekarang saya harus belajar menanam sayuran sendiri secara organik.

Sementara belajar, sebaiknya saya mengikuti saran pak N,

…ada beberapa sayuran yang tidak pernah memakai pestisida sama sekali pada waktu penanamannya, dan sayuran ini sangat aman untuk dimakan. Sayuran tersebut misalnya, daun singkong, daun pepaya, daun katuk, daun ubi jalar.

Selain itu, kalau beli sayuran pilihlah yang masih ada bekas gigitan serangganya. Karena, hal itu membuktikan bahwa penanaman sayuran tersebut tidak menggunakan pestisida yang sangat tinggi konsentrasinya.

Sedangkan, sayuran yang sudah pasti banyak mengandung pestisida adalah kubis, kembang kol, brokoli. Tanaman2 ini tidak akan tumbuh sempurna tanpa perlakuan pestisida.

Seperti pernah saya tulis sebelumnya, para ibu di Jawa 8arat, ASI nya sudah mengandung pestisida. Mungkin karena mereka senang lalapan kubis dll. Sayuran yang dimasak juga dapat mengurangi kandungan pestisida yang ada di dalamnya. Selain itu, air minum mereka juga mungkin sudah tercemar pestisida.

Yaiks… Itu alinea terakhir apa? Payudara beracun!? Tulisan Pak N itu benar-benar mengerikan.

Kruget mungkin cuma “korban kolateral” yang mampus akibat ketamakan manusia-manusia pemuja profit. Ibu-ibu pemakan sayur dan anak-anaknya yang terjangkiti kelainan gara-gara pestisida mungkin juga senasib dengan Kruget, hanya korban kolateral. Yang harus saya lakukan sekarang adalah belajar untuk menanam secara sehat.

Bacaan Terlarang

Suatu ketika, di akhir sebuah pertemuan para ahli surga, seorang Pemanut menanyakan sesuatu pada Sang Murabiatch. Setelah sekitar 13 detik …

Murabiatch : “Jangan baca dusta itu! Itu tipu daya kaum sesat yang bersekongkol dengan iblis!! Mereka selalu berusaha menyesatkan, merusak akidah, dan menjerumuskan kamu kedalam neraka!!!”

Para Pemanut : “Kami dengar dan kami manut”

Murabiatch : “Bagus, memang hanya kepada kami kalian harus percaya, karena hanya kami yang paling benar! Yakinilah!!”

Para Pemanut : “Kami dengar dan kami manut”

Murabiatch : “Lain kali, konsultasikan semua buku dan tulisan yang akan kamu baca kepada kami supaya kamu tidak masuk neraka”

Para Pemanut : “Kami dengar dan kami manut”

Murabiatch : “Kalian boleh kreatif, boleh berpikir, boleh mengkritisi apapun. Tapi jangan sekali-kali mempertanyakan, apalagi meragukan kebenaran sejati yang kami sampaikan. Ingat, kami adalah yang paling benar!! Takutlah kalian pada siksa Tuhan kami yang sadis, pedih, keji dan abadi! Takutlah kalian semua! TAKUTLAH!!”

Para Pemanut, dengan mimik ketakutan yang sangat amat serius : “Kami dengar dan kami manut, ya Murabiatch”

Murabiatch mengangguk dan tersenyum penuh kharisma, sambil dalam hati : “BWAAA HAW HWA WHA HA HA HA!!!!

Selesai.

- – -

Ending alternatif:

Sang Murabiatch gagal menahan tawa, dia tertawa brutal sampai terjungkal-jungkal, berguling-guling sambil memegangi perut sampai beberapa menit sebelum akhirnya tawa itu reda…. Sekarang dia harus memikirkan sesuatu untuk menjelaskan pada Para Pemanut yang setia itu alasan dia tertawa. Kira-kira apa ya?

Menelan Buntelan Suci

Suatu hari di sebuah Gerai alat telekomunikasi ragawi:

“Mbak, kalau saya beli modemnya aja boleh ndak?” Tanya Mas Ganteng pada Mbak Seksi diseberang meja kaca tembus pandang.

“Maaf Bapak, tidak bisa. Modem ini bisa diperoleh jika bapak beli paket XXX unlimited” Jawab Mbak Seksi seraya sibuk merapikan rok mininya yang memang dirancang amat pendek.

Sambil berjuang untuk tidak menonton aksi upskirt, Mas Ganteng berkata lagi “Oooh… kalau saya beli paket XXX unlimitednya saja tanpa modem, gimana?”

“Tidak bisa juga, Bapak. Ini sudah paket, kalau ambil XXX unlimited, maka bapak dapat modemnya dengan harga khusus, kala….” Belum sempat mbak seksi melanjutkan, Mas Ganteng memotong “Kalau saya minta nomor HP anda, supaya nanti malam bisa telpon minta penjelasan lebih lengkap, boleh?” Si Mas Bertanya dengan suara yang tiba-tiba jadi bariton menenangkan.

Ok, cukup, cukup…

Sekarang kita perhatikan latar fragmen diatas: Trik penjualan dengan bundel, atau buntel…? Aduh maaf, karena saya bukan orang marketing, jadi boleh ignoran+sok tahu dikit soal ini, ya? Ok, apapun itu namanya, intinya adalah menggabung beberapa item sekaligus dalam satu buntelan, biasanya buntelan itu akan diberi label menarik seperti paket “Huwemat Bwangedz”, lalu dijual per-buntel. Pembeli hanya bisa mendapatkannya sebagai satu buntelan utuh, tidak boleh per item.

Satu contoh lagi, sebuah vendor menjual paket berisi selusin Kondom bergerigi, satu Vibrator merk Jannah, Pelumas Derox, 2 batre AAA asli dumping RRC, dan secuil Bangkai Tikus Piti. Mereka namai buntelan itu sebagai “Paket sBulan sokSuci”. Anda sebagai pembeli tidak boleh beli vibratornya saja atau kondomnya saja. Walau anda tahu batrenya tak lebih dari sampah merkuri, dan cuilan bangkai tikusnya juga tak berguna, tetap saja anda harus membayar semuanya sebagai “Paket sBulan sokSuci”.

Walau tidak selalu, kadang-kadang tujuan pembuntelan macam itu memang untuk menjual barang-barang yang sulit dijual. Produk-produk yang jika berdiri sendiri tak bakal laku, setelah dimasukkan bundel bisa laris manis dipasaran.

. . . _ _ _ . . .

Trik yang sama terbukti bermanfaat dalam memasarkan produk-produk rohani dan sejenisnya.

Misalnya, produk yang ingin dipasarkan adalah pembodohan, terror dan kebencian. Maka siapkan saja sebuntel pasal sebagai berikut:

Jangan engkau mencuri, sebagaimana kaum sebelum kamu juga dilarang mencuri
Jangan makan daging manusia, pada hari ini, aku resmikan saran ini sebagai harga mati
Jangan meludah kearah datangnya angin, merugilah orang-orang yang tak menggunakan akalnya
Jangan kau menusuk dari belakang, karena rasanya sakit, sakit minta ampyun
Patuhi rambu-rambu lalu lintas saat ada polisi, sungguh beruntung orang-orang yang berpikir
Dan beberapa ratus pasal lain yang isinya dapat saja berupa anjuran logis sederhana. Yang penting disampaikan secara berbelit dan puitis sedemikian rupa hingga terasa surgawi dan multitafsir.
Kemudian sekian ratus pasal itu di buntel dan dilabeli sebagai “666 Perintah Dewi Pengulum Pedang(DPP)”, atau “Kitab Berkhasiat Si Maha Jenggot (SMJ)”, atau apapun. Yang penting kaitkan paket itu dengan siapapun yang sudah punya branding oke. Sesuatu yang diyakini punya kekuatan luar biasa.

Di pasar, para pembelinya akan menerima buntelan itu sebagai satu kesatuan yang utuh yang tak terpisahkan. Kenapa? Karena buntelan ini sudah dikaitkan erat dengan tokoh hebat yang punya branding luar biasa (DPP/SMJ), yang begitu hebatnya hingga tidak boleh dibantah apalagi diragukan keluarbiasaannya. Pokoknya, buntelan ini tidak boleh dibongkar untuk dikritisi isinya satu-persatu. Apalagi dipreteli dan disaring mana yang baik dan mana yang sampah. Dosa itu. Dosa banget.

Karena yang namanya buntelan (terutama buntelan suci) harus selalu ditelan bulat-bulat, maka terbukalah kesempatan untuk menyelipkan “inti sari” dari buntelan itu, yang tak lain adalah produk yang ingin dipasarkan, dalam contoh ini adalah kebencian, pembodohan dan terror.

Tentu perlu diselipkan juga beberapa pasal untuk kepentingan pemasaran (bonus bagi yang merekrut konsumen baru), menyerang kompetitor (cap sesat bagi jidat liyan) maupun untuk memastikan loyalitas pelanggan (eksekusi mati pembelot yang beralih ke produk lain) dan apapun apapun yang dianggap perlu.

Diantara sekian banyak pasal yang menganjurkan kebaikan-kebaikan praktis dan gampang dinalar, sisipan beberapa pasal ajaran keji tentu sulit disadari. Apalagi jika produk pembodohannya sudah dihayati.

Walau suatu ketika ada pembeli menyadari pasal-pasal mencurigakan, itupun tidak jadi masalah. Kan semuanya harus tetap ditelan. Menerima buntelan suci memang harus kaffah. Menolak satu saja dari isi buntelan, maka si penolak dianggap bukan umat yang baik, bukan konsumen yang loyal. Siapapun yang mengkritisi, apalagi menolak satupun pasal, akan didaulat sebagai pendosa yang sudah membangkang terhadap sabda DPP, atau SMJ. Jika para konsumen setia tidak berhasil menyakiti dia di dunia, maka siksa pedih menunggunya di neraka.

. . . _ _ _ . . .

Akhir kata, tulisan saya tutup dengan kesimpulan semena-mena: Buntelan tak hanya meningkatkan daya jual ‘produk sampah’ yang susah laku, tapi juga melindungi seluruh isi buntelan dari ancaman pikiran manusia yang sok kritis, liar dan kurang iman.

Sekarang, sadarkah anda apa saja isi dari buntelan yang terakhir anda telan?

Manfaat kebencian yang melebar

Yang berbuat hanya segelintir dari kelompok tertentu, tapi seluruh anggota kelompok dianggap salah. Ada yang menyebutnya sebagai generalisir, ada yang bilang guilty by association, dan saya kali ini menyebutnya “kebencian yang melebar.”

Bagi orang-orang lugu macam Uday, kebencian melebar ini mungkin terasa ganjil. Dia akan menganggapnya tidak efektif dan salah sasaran. Padahal, justru ‘kebencian yang melebar’ gitu yang lebih sering dipromosikan. Yang mempromosikan juga tidak cuma media-media berorientasi duit, tapi juga tokoh-tokoh yang berpendidikan tinggi.

Kenapa? Apa manfaatnya?

Setelah sedikit mengerutkan dahi, akhirnya saya mulai bisa membayangkan. Ternyata manfaatnya bisa sangat menguntungkan. Berikut ini gambaran sekenario dimana kebencian melebar bisa sangat menguntungkan.

Contoh kasus:

Bayangkan saya adalah seorang pedagang tanah multinasional yang berasal dari negara Batavia. Tiap ada tanah nganggur, pasti saya pacul, pikul dan jual, tentunya dengan pacul sakti yang maha besar. Suatu hari saya berhasil masuk negara Buitenzorg dan memaculi semua tanah yang ada. Tentunya setelah menyogok semua birokrat dengan sogokan-sogokan yang nikmat dan dalam.

Karena tanahnya saya pacul dengan sepacul-paculnya, banyak penduduk Buitenzorg mulai murka. Banyak dari mereka terpaksa hidup mengambang atau melayang karena tanahnya hilang akibat kerakusan saya *jangan memaksa diri untuk membayangkan*.

Jika saya beruntung seperti biasa, maka kemurkaan warga Buitenzorg dapat diatasi dengan menyebar pendakwah pengadu domba agar mereka sibuk saling bunuh sendiri. Atau bikin tontonan lomba desah birokrat-birokrat kesogok. Tapi gimana kalau saya sedang tidak beruntung? Gimana kalau semua usaha pengalihan perhatian gagal total? Nah, di sini “kebencian melebar” jadi penyelamat.

Daripada semua orang fokus mempermasalahkan saya seorang, lebih profit kalau kemarahan mereka itu diarahkan jadi kebencian pada Batavia. Hasut warga Buitenzorg agar menganggap semua warga Batavia sebagai kafir yang suka menjajah dan pantas dibantai. Diam-diam saya danai pelatihan-pelatihan pengebom bunuh diri untuk meledakkan kota-kota di Batavia.

Saya nggak merasa rugi, malahan untung. Banyaknya gedung yang hancur akan diikuti banyak pembangunan dan perbaikan. Ngaduk semen perlu dicampur tanah, mereka beli ke toko material dan semua toko harus beli tanah dari sang monopolist agung: Saya.

Tapi, sebagai patriot dan warga negara yang berbudi luhur, saya juga ga terima dong negara saya dirusak oleh para pembom bunuh diri. Jadi saya bayar pabrik-pabrik PR untuk meyakinkan masyarakat dan parlemen Batavia bahwa negara Buitenzorg itu ancaman, isinya zombi fanatik haus darah, perlu segera diinvasi. Secepatnya.

Walau setelah invasi pemberontakan terus bermunculan, semua akan senang. Rakyat Batavia senang bisa mempererat persatuan dengan adanya Buitenzorg sebagai musuh bersama, para pembunuh diri Buitenzorg juga senang karena ada Batavia yang bisa dijadikan sasaran bom bunuh diri untuk masuk surga. Pabrik senjata senang karena bisa menguji dan menjual persenjataan terbaru. Bang Duni yang rentenir global juga girang karena bisa membenamkan kepala semua orang kedalam hutang, semua orang, kecuali saya yang juga senang bebas memacul sepacul-paculnya, dan menjualnya dengan harga jauh lebih tinggi dengan alasan langka akibat perang.

Begitulah. Kebencian melebar ternyata bisa memberikan kesenangan pada banyak pihak! Dan segitu baru dimainkan di dua negara lho, bayangkan kesenangan yang dihasilkan kalau kebencian melebar ini bisa dimainkan secara global.

Mengerikan.

9 Jurus Ampuh Membungkam Aidid Safar

Anda tahu Aidid Safar? Dia adalah penulis buku Mental Bondage In The Name Of God. Sebuah buku yang mengajukan beberapa sudut pandang yang “beda” dalam memahami Islam dengan berpedoman pada Al Quran.

Saya baru membaca PDFnya (dengan sekilas). Menurut saya, walaupun dia menawarkan pemahaman Islam yang lebih damai, yang tanpa terror maupun pemaksaan, tapi efek samping wacana yang ditawarkan sangatlah merugikan para Ulama, terutama yang menuhankan Hadist. Wacana tentang posisi Hadist terhadap Quran, juga tentang ‘sepenting apa sih posisi ulama’ dalam memahami pesan-pesan dalam Quran sampai siapa yang harusnya punya otoritas dalam memaksakannya pada manusia dibahas dengan bersandar pada ayat-ayat Qur’an.

Tidak hanya Ulama Islam sedunia, bahkan Kerajaan Saud pun dapat ikut dirugikan. Penjelasan Aidid tentang Ka’bah dan ibadah Haji mungkin saja membuat pembacanya tergerak untuk berhenti membuang uang demi naik haji berulang kali, mungkin jadi hanya sekali saja, atau malah memilih tidak pernah berangkat sama sekali.

Gara-gara internet, wacana-wacana sesat macam itu semakin hari jadi semakin mudah kita akses. Terlalu mudah hingga jadi ancaman bagi keimanan kita. Karena itulah, dengan sedikit bantuan Google yang Lumayan Maha Tahu, saya coba kumpulkan beberapa jurus untuk melindungi Agama, Iman dan Tuhan anda dari hasutan Aidid dan orang-orang sejenisnya.

Katakan bahwa semua yang Aidid sampaikan adalah sampah dan yakinilah pernyataan anda sendiri sebagai kebenaran sejati.
Katakan bahwa dia sebenarnya tidak mengerti Bahasa Arab sedikitpun, kerjanya dia hanya membual saja
Yakini bahwa dia bukan orang Arab, karena itulah dia tidak berhak untuk memahami Qur’an dengan cara baru yang tidak sesuai ajaran Arab.
Jika anda tidak bisa membaca bahasa inggris, bersyukurlah. Jangan belajar bahasa itu. Banyak tulisan yang merusak iman ditulis dalam bahasa Inggris. Jangan biarkan anak anda belajar bahasa Inggris, ajarkan bahasa Arab saja, itupun sebisa mungkin hanya sebatas menyanyikannya, jangan sampai dia tertarik cari tahu apa artinya.
Yakinilah bahwa keyakinan dan pemahaman anda saat ini sudah yang paling benar, tidak mungkin dan tidak akan ada yang lebih benar lagi, karena pemahaman anda sudah yang paling benar sedunia akhirat.
Yakinilah bahwa dia adalah agen kafirisasi yang ditugaskan oleh agama lain untuk merusak Iman. Atau jika Aidid tampak mengkritisi semua agama, maka tuduh lah dia sebagai agen atheis yang dilaknati Tuhan.
Bahasa Arab adalah bahasa yang paling hebat sedunia akhirat. Kadang sebuah kata bisa memiliki banyak makna. Saat Aidid (atau siapapun) menawarkan pemaknaan yang berbeda dari ajaran yang kita terima selama ini, maka yakinilah bahwa dia itu bukan siapa-siapa. Yang berhak memilih makna mana yang diwakili oleh setiap kata hanyalah para Ulama Arab di jaman dahulu. Bukan siapapun di jaman sekarang, apalagi Aidid yang pikirannya ga jelas itu.
Jangan sekali-kali menggunakan akal apalagi menuhankan akal. Kalaupun terpaksa menggunakan, gunakan hanya untuk membela keyakinan anda. Hanya untuk membuat pembenaran. Bagaimanapun, Aidid hanya akal-akalan saja untuk membual dengan mengatasnamakan Quran.
Demi membela agama, baik ad-hominem, fitnah bahkan sampai pembunuhan sekeji apapun telah sering kita halalkan. Tak sepantasnya anda malah ragu dalam hal sepenting ini. Jangan biarkan setan menyelipkan keraguan di hati anda.
Tentu saja masih banyak jurus lain yang bisa diusulkan. Silakan berbagi cara yang menurut anda lebih jitu.

Sekarang saya ucapkan selamat. Anda yang sudah membaca posting ini boleh bersyukur. Jika suatu saat nanti menemukan saya (atau orang lain) membahas isi buku tersebut, anda sudah lebih aman karena telah mengetahui caranya menjaga iman. Jurus-jurus ampuh tersebut juga akan melindungi anda dari wacana-wacana sesat lainnya.

Untuk Industri Rokok dan Umatnya yang Lebih Baik

Industri rokok yang maha kuasa sedang mengubah manusia. Teman-teman anda, satu persatu sedang diubah jadi perokok yang taat. Tetangga anda, orang tua anda, pembantu anda, supir anda, boss anda, teman-teman mereka, semuanya sedang direkrut untuk jadi perokok yang taat. Lewat media cuci otak massal maupun pergaulan dengan umat yang taat, satu persatu anak Indonesia juga sedang dipengaruhi agar jadi perokok yang taat.

Bagai virus zombie dalam film fiksi, virus ketaatan terhadap rokok terus menular, perlahan tapi pasti akan terus meluas. Hanya masalah waktu sebelum berhasil menguasai manusia.

Manusia yang sudah berubah jadi perokok taat sangat sulit untuk lepas lagi. Bagai orang tercerahkan, tingkat kesadarannya meningkat ke level yang sulit dipahami orang awam. Wujudnya masih manusia, tapi cara berpikirnya sudah berubah. Rokok jadi mirip agama yang mengajarkan terror dan kekejian, di mata para “kafir” agama itu tampak berbahaya dan merusak, tapi di mata umatnya yang taat justru tampak suci dan harus disebarluaskan, bahkan dipaksakan.

Memahami ini, kita akan sadar bahwa usaha menyadarkan perokok akan lebih banyak membuang waktu dan energi. Daripada membuang energi berdebat dengan umat, lebih baik mulai bekerjasama dengan imam-imam mereka: Para investor dan owner industri rokok.

Industri rokok punya kekuatan yang maha besar. Dana yang luar biasa hingga mampu mensponsori event apapun termasuk olah raga. Dengan kekuatannya mereka mampu mempengaruhi pikiran manusia dengan berbagai cara. Salah satunya adalah iklan. Coba perhatikan iklan di berbagai media. Walau tak satupun yang menampilkan manusia sedang merokok, anda bisa lihat ide-ide yang sedang ditancapkan ke benak penonton:

Merokok itu jantan, sesuai selera lelaki.
Merokok itu bagus untuk yang panik dikejar deadline. Iklannya orang yang kebut-kebutan dan berkendara secara akrobatis di jalanan umum demi mempersembahkan sesuatu pada si kaya.
Merokok itu keluar dari kebiasaan mayoritas. Out of ordinary. Merdeka dari ‘perbudakan masyarakat’. Iklannya menampilkan muda mudi yang terbang dibawa gelembung entah kemana.
Merokok itu menghilangkan stress yang masih sedikit. Gelembung-gelembung diatas kepala, kalau masih kecil bisa langsung hilang.
Merokok itu setia kawan.
Merokok itu kreatif.
Gimana kalau pencitraan itu dikembangkan lagi demi kebaikan lebih banyak manusia. Dipercanggih. Difokuskan untuk mengubah prilaku perokok yang taat menjadi lebih baik. Image yang ditanam bisa seperti ini:

Perokok jantan nggak cuma penampilannya yang menawan, adabnya juga oke, tidak merokok sembarangan dan selalu membuang sampah pada tempatnya.
Perokok menghayati pluralisme, bisa gotong royong dengan golongan apapun.
Perokok itu cerdik dan waspada, tidak mudah jatuh dalam pembodohan dan adu domba.
Perokok itu anti korupsi, jujur lahir batin dengan integritas yang bisa diandalkan.
Perokok kalau jadi pejabat tetap sederhana, hidupnya diabdikan untuk kemajuan warga.
Perokok itu keren, menghargai bumi, tidak menggunduli hutan, selalu sigap dalam mendukung usaha melestarikan lingkungan.
Perokok itu peduli dengan kesehatan, rajin olahraga dan makannya tidak sembarangan. Membuat iklan seperti ini akan jadi usaha yang paling menantang :P
Perokok itu pintar, rajin sekolah dan lulus UN dengan sangat mudah atau menyelesaikan skripsi dengan semangat.
Perokok itu spiritualis nan keren, manusia tingkat tinggi yang merdeka dari perbudakan hawa nafsu.
Perokok itu penuh kasih, tidak hanya mengasihi diri sendiri, tapi juga semua mahluk lain. Hmmm…. mungkin iklannya seorang pertapa sedang merokok, eh… atau Bunda Theresa klepas klepus mungkin?
Dll.
Dengan cuci otak yang lebih canggih begitu, saya yakin industri rokok bisa mempengaruhi umatnya untuk berprilaku dengan lebih keren. Lebih baik. Bahkan jadi lebih baik daripada orang-orang awam yang tidak merokok.

Sekarang gimana mulainya, gimana aksesnya, gimana cara melobi para imam rokok ini supaya lebih peduli? Supaya tidak sekedar mengeksploitasi, tapi juga memperbaiki, mengembangkan dan memajukan

Tradisi, tidak semua harus dipelihara

“Sesungguhnya doa yang segera terkabul adalah doanya kaum yang ikut slametan/tahlilan” ~ Hasil Riwayat Anonim

Sahih banget. Tadi sore pun terbukti masih relevan. Manusia tidak perlu menunggu lama sebelum doa terkabul. Cukup datang, duduk, doa-doa merdu barang sebentar, dan langsung dapat berkah. Berkahnya berupa “berkat” yang nilainya tergantung sang penyelenggara hajat.

Ehem…

Jadi, tadi sore saya ikut berdoa *muka insap*.

Weits… ini bukan cerita pengalaman spiritual kok, ini soal tradisi.

Jadi dalam undangan kali ini saya datang sangat awal. Selain ikut menyeret-nyeret kursi agar menyingkir demi umat, saya juga sempat ke dapur untuk meninjau dan mencicipi makanan yang akan dijadikan berkat. Disinilah saya menemukan sesuatu yang ganjil. Sesuatu yang jarang saya temui di acara slametan/tahlilan yang lain *emang jarang ikut juga sih*.

Ada beberapa ibu yang sibuk membungkus batang-batang rokok untuk disertakan dalam boks paket berkat. Jadi setiap boks berkat yang diterima umat akan disertai satu batang rokok. Supaya tidak terpapar minyak dari makanan yang lain, batang-batang rokok ini pun dibungkus plastik. Repot sekali.

“Memang adatnya disini gitu!” Jawaban yang saya terima saat menanyakan kenapa harus disertai rokok.

“Ya tapi udah tradisinya seperti itu!” Ini jawaban yang saya terima saat mencoba berargumen bahwa rokok itu tidak sehat, dan menyelipkan rokok ini bisa dianggap sebagai dukungan untuk terus merokok bagi perokok, dan agar mencoba rokok bagi yang belum.

Akhirnya sambil maklum saya bertanya untuk terakhir kali, “Gimana kalau tradisi ini tidak usah kita hormati saja? Nggak usah dijalankan?”

Dan jawabannya tentu saja tegas, “Nggak bisa, pokoknya tradisi harus dihormati!”

Rokoknya mungkin ngerusak paru-paru. Bungkus plastiknya juga mungkin merusak bumi. Tapi tradisi tetap harus dihormati. Mungkin pikir sang penyelenggara ini bukan masalah besar, toh bikin acara macam ini juga jarang, tidak pasti setahun sekali. Sekali-kali mendukung prilaku merusak tidak akan berpengaruh besar.

Kalau ibu-ibunya begitu, anak-anaknya akan tumbuh jadi gimana?

Untuk memanusiakan atau melestarikan kehewanian?

Kakek Girang (AKeGi) : Badan cewe itu harus dibungkus, jangan ngumbar aurat gitu!

Cucu Jahanam (UCuHa): Kenapa?

Akegi : Supaya tidak memicu maksiat. Menggumbar aurat itu mengundang syahwat, kalau kamu diperkosa lelaki gimana?

Ucuha : Lho, kenapa bukan lelaki saja yang diajari mengendalikan nafsu?

Akegi : Tidak semua lelaki bisa mengendalikan nafsu, kalau kamu ketemu orang-orang yang prilakunya seperti binatang, gimana?

Ucuha : Ya sekarang lelakinya gimana, mau milih jadi manusia atau jadi binatang?

Akegi: Kamu itu, dikasih tau kok ngeyelan. Aturan suci itu diturunkan Tuhan untuk melindungi perempuan dari binatang-binatang berwujud manusia yang suka memperkosa wanita pengumbar aurat!

Ucuha : Ya harusnya tujuan Tuhan bikin aturan suci itu, untuk membuat manusia binatang jadi beradab. Supaya mampu mengendalikan nafsu dan tidak sembarangan memperkosa hanya karena definisinya tentang aurat tidak dihormati. Harusnya memberdayakan lelaki supaya kuat mengendalikan diri, bukan malah mendukung ketidakberdayaannya dalam mengendalikan selangkangan.

Akegi : Heh, apa maksud kamu?

Ucuha : Ya kalau nggak mampu mengendalikan diri, itu yang harus dicari sebabnya, dipelajari caranya supaya jadi mampu. Bukan malah menyalahkan perempuan. Bayangkan, suatu kaum yang selalu tergoda makan mie rebus setiap menghirup baunya. Nggak ikut ngerebus, nggak beli, tapi langsung saja nimbrung ikut makan. Tuhan umat seperti ini pasti akan menurunkan ayat yang mewajibkan setiap mie instan harus ditutupi supaya baunya tidak kemana-mana.

Akegi : Kamu jangan sok tahu. Tuhan itu maha tahu. Aturan ini bikinan Tuhan lho. Asli. Asli banget. Kamu harus percaya! Jangan kurang ajar!

. . . . . . . . .

Dialog diatas adalah hasil mencuri dengar yang sudah dimodifikasi. Untung mencuri dengarnya tidak sampai selesai. Andai hukuman untuk ‘mencuri dengar’ adalah potong kuping, maka hukumannya bisa dikurangi sampai jadi hukum tindik saja.

Niat Ingsun Tidak Puasa Sebulan Penuh

Sebuah niat yang saya persiapkan untuk menyambut bulan puasa:

Dengan menyebut-nyebut nama Tuhan Yang Maha Baik…

Saya berniat untuk tidak puasa sebulan penuh.

Jika nanti saya ditimpa tatapan sinis, nasihat maupun cercaan dan penghakiman dari manusia-manusia yang karena puasanya jadi merasa lebih suci dari manusia yang tidak berpuasa, maka saya akan menerimanya dengan penuh hormat, sabar dan kesadaran… Karena dulu sewaktu saya puasa juga sering merasa lebih agung dari yang tidak berpuasa.

Menyambut kebisingan yang pasti meningkat dalam bulan ini, saya bertekad untuk berprilaku lebih hening dan tidak ikuti-ikutan menyumbang polusi suara. Saat calon-calon teroris cilik berlatih meledakkan petasan, dengan penuh kesabaran saya akan didik sifat kanak-kanak dalam diri agar saya tidak tergoda ikut-ikutan. Saya juga bertekad untuk tidak lagi memainkan gas secara kampungan, tidak membunyikan klakson secara barbar serta mengganti muffler dengan yang sesuai standar. Saya akan berhenti memuji Iblis / Tuhan dengan cara yang bising, kalau memang harus ya cukup secara personal dan dalam hati saja.

Menyambut keserakahan dan hawa nafsu yang akan semakin liar karena puasa, jika dulu rumah tangga jadi semakin rakus dan melipatgandakan dosis shoppingnya, maka sekarang saya akan belanja secara sederhana dan justru jadi lebih selektif. Daripada menghamba pada nafsu mata, nafsu lidah dan nafsu perut… saya akan jadi lebih pemilih dan peduli pada kandungan nutrisi dan ingredients-nya. Memangsa makanan secara beradab tanpa menyiksa diri, demi tubuh yang lebih sehat dan pikiran yang lebih tenang.

Dalam masalah belanja, saya akan prioritaskan beli dari warung-warung terdekat dan pasar tradisional. Jika warung/pasar itu karena ketololan dan keserakahannya menjual barang kadaluarsa atau palsu, hingga saya terpaksa harus ke minimarket, maka saya prioritaskan minimarket yang sahamnya masih dimiliki orang-orang lokal. Begitu pun kalau harus supermarket/mahamarket, prioritasnya adalah yang dimiliki individu lokal, bukan milik korporasi multinasional. Harga beda dikit ndak masalah, wong saya juga pernah tahu rasanya dagang kurang modal.

Di akhir bulan, saya tidak akan ikut-ikutan mayoritas beriman yang menguras tabungan hanya untuk beli pakaian-pakaian baru, membiayai penampilan keren demi gengsi dan merayakan kemenangan palsu dalam kesia-siaan. Saya akan memilih sesat dengan tetap menggunakan semua pakaian yang masih layak pakai.

Semoga setelah itu saya bisa jadi lebih baik dan tidak lagi menurut membabibuta pada tradisi dan ajaran yang tidak relevan lagi.

Gimana… Ada yang perlu dibenarkan? Masih ada beberapa hari untuk memperbaiki niat.

Menemukan Agama Yang Paling Sempurna

Sebuah soal cerita religius untuk adik-adik yang cantik, yang ganteng dan yang yummy:

Ayah bekerja di sebuah perusahaan yang mengeruk sumber daya alam dari seluruh penjuru bumi. Dengan segala cara mengumpulkan profit, tanpa peduli dengan nasib manusia maupun alam di sekitar area kerjanya. Di semua tempat yang dieksploitasi selalu menimbulkan kerusakan yang parah banget. Walaupun keji, Ayah digaji tinggi, otomatis uang jajan kalian juga besar sekali hingga bisa beli apapun yang kalian ingini. Mama juga bisa rutin belanja keluar negeri dan sering main sama bronsky.

Suatu pagi, perusahaan tempat Ayah membudak menemukan surga di bumi. Beberapa spot seksi terbukti mengandung sumberdaya ruar biasa. Tapi ada masalah klasik, area itu dikuasai oleh sekelompok manusia yang berkumpul membentuk sebuah negara. Kali ini negara yang sok religius dan sok demokratis.

Sesuai prosedur, agar perusahaan bisa mengeruk tanpa gangguan dari penduduk sekitar, maka perusahaan segera menugaskan beberapa divisi yang salah satunya adalah divisi khusus untuk negeri religius dibawah pimpinan Ayah.

Hanya dalam beberapa waktu, divisi “perijinan” sudah membeli semua harga diri birokrat terkait hingga ijin keruk terbit dengan masa berlaku nyaris abadi. Divisi “relasi publik” bergerak untuk memenuhi semua media dengan berita-berita pembodohan dan pengalih perhatian; wartawan matre, tweeps, faceboker sampai para blogger influencer diberi ‘beasiswa’ agar mendukung misi perusahaan. Divisi “pendidikan” memastikan agar menteri pendidikan membuat kurikulum yang secara sistematis membunuh daya kritis dan kreativitas anak sejak langkah pertama masuk sekolah. Divisi “spiritual” membuat guru-guru spiritual mengajak murid-muridnya diam, tidak kritis, tidak peduli dan tidak bersuara, melulu sibuk trance dengan otak yang penuh dengan kebahagiaan. Divisi ‘ekonomi’ membuat para pejabat sangat buncit dan mahir bermain statistik untuk pencitraan.

Nah… tinggal divisi religius yang dipimpin Ayah yang belum mulai berprestasi. Tugasnya adalah menemukan sebuah agama yang bisa disponsori eksistensinya. Tentu saja agama yang dipilih harus agama yang sejalan dengan misi perusahaan. Agama yang bisa membuat manusia sekitar area, bahkan kalau perlu membuat manusia di seluruh alam semesta membiarkan perusahaan melakukan eksploitasi sepuasnya tanpa gangguan.

Untungnya Ayah sudah diberi beberapa kriteria, harus seperti apa sifat agama yang akan disponsori:

Mengajari manusia untuk sangat tergantung pada opini-opini pemuka agama yang otoriter. Jadi Ayah bisa mengendalikan jutaan manusia hanya dengan menguasai beberapa pemimpin agama.
Mengajari manusia untuk menyembah Tuhan secara kroyokan, kumpal kumpul, grudak gruduk, polutif, berisik dan intimidatif. Gerombolanisme ini lebih mudah digembala dan bagus untuk mengeliminasi individu yang tidak kooperatif dan sok kritis.
Pesan-pesan dalam kitab sucinya harus sangat multitafsir, kontradiktif dan dipenuhi pesan hipnotif yang menumbuhkan arogansi dan rasa paling benar sendiri bagi pembacanya. Ini bagus agar umatnya tidak pernah kompak, terpecah dalam berbagai sekte dan tiap saat bisa dibuat sibuk dengan pertengkaran-pertengkaran suci yang religius.
Kitab sucinya harus terlalu suci untuk ditafsirkan oleh sembarang orang. Siapapun boleh baca, tapi hanya segelintir pemuka yang diijinkan memakainya untuk bikin opini dan menggerakkan massa. Ini perlu agar pemuka agama yang dikuasai perusahaan tidak punya saingan.
Menyembah Tuhan yang Maha Gila Hormat, Maha Haus Darah, Maha Pemarah, Maha Pencemburu, Maha Penuh Kebencian terhadap orang yang tidak beriman dan Maha Perlu Dibela. Ini supaya manusia jadi takut dan mudah diatur tapi tetap bersemangat membela Tuhan dari segala ancaman, baik darat, laut, udara maupun online.
Mengajari umat untuk gemar mengurusi selangkangan orang lain, suka ikut ngatur urusan ibadah orang lain, dan tidak mengizinkan penggunaan akal tanpa restu pemuka agama. Kesibukan mengurusi selangkangan dan keimanan tetangga akan membuat manusia lupa menggunakan akal untuk memikirkan hal-hal yang lebih bermanfaat.
Menjanjikan kenikmatan fisik setelah kematian dengan syurga yang nikmatnya surgawi dan neraka yang sakitnya luar biasa nerakawi. Janji surga ini untuk membantu agar manusia bisa tetap sabar, nrimo, pasrah dan tawakal walau dimiskinkan, dibodohi dan ditindas akibat perselingkuhan Penguasa, Pemuka agama, Media dan Perusahaan. Sedangkan ancaman siksa neraka bermanfaat untuk menteror siapapun yang tidak mau menurut pada opini pemuka agama.
Mendidik umat untuk selalu mengkambinghitamkan Setan dan Tuhan dalam setiap kesulitan yang diderita. Kalau gagal mengendalikan nafsu maka itu salah setan yang suka menggoda. Kalau ditimpa bencana alam atau kecelakaan maka itu gara-gara Tuhan yang iseng memberi cobaan. Ini bagus untuk mencetak pribadi-pribadi sok religius yang gemar menyalahkan pihak lain, pasrah dan tidak suka bertanggung jawab.
Perusahaan menggaji Ayah berdasarkan prestasinya dalam pekerjaan, kalau gagal menemukan Agama yang paling sempurna sesuai kriteria diatas, maka Ayah bisa dipecat. Uang jajan kalian dan gaya hidup mama bisa terancam.

Ayo, bantu ayah menemukan Agama yang paling sempurna! Lakukan tanpa menyebut label/merk dagang, karena dinding punya telinga, mata-mata perusahaan kompetitor ada dimana-mana.

Apakah kamu cukup cerdik untuk melakukannya?