Minggu, 15 Mei 2011

JATAKA

Awalnya, dengan mendengar,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan
oleh Sang Bhagawan ketika berada di Weluwana, mengenai Devadatta, yang
mendapatkan kesetiaan Pangeran Ajātasattu, ia memperoleh keuntungan
serta kehormatan darinya. Pangeran Ajātasattu membangun sebuah wihara
untuk Devadatta di Gayāsīsa, dan setiap hari mempersembahkan lima
ratus mangkuk nasi wangi yang berusia tiga tahun, yang telah dibumbui
dengan semua bumbu pilihan. Semua keuntungan dan kehormatan ini
membawakan sejumlah pengikut untuk Devadatta, yang tinggal bersamanya,
tanpa pernah keluar dari wihara. Saat itu di Rājagaha, hiduplah dua
orang sahabat. Satu orang mengucapkan sumpahnya di bawah Sang Guru,
sementara yang satunya lagi, bersumpah di bawah Devadatta.

Mereka berdua saling bertemu sepanjang waktu, baik secara kebetulan
maupun dengan mengunjungi wihara masing-masing. Suatu hari, murid
Devadatta berkata kepada temannya, “Bhante, mengapa setiap hari engkau
pergi berkeliling melakukan pindapata hingga keringat bercucuran di
tubuhmu? Devadatta hanya perlu duduk dengan tenang di Gayāsīsa, dan
hidup dari makanan dari kualitas terbaik yang dibumbui dengan semua
bumbu pilihan, tidak perlu melakukan apa yang kamu lakukan. Mengapa
mencari penderitaan sendiri? Apakah tidak baik bagimu untuk datang
pagi-pagi sekali ke wihara di Gayāsīsa, dan menikmati bubur nasi
dengan makanan pembuka setelah itu, mencoba delapan belas jenis
makanan padat yang kami miliki dan juga makanan lunak dengan mutu yang
baik, yang dibumbui dengan semua bumbu pilihan?”

Karena selalu dibujuk untuk menerima undangan tersebut, bhikkhu ini
mulai berniat untuk pergi, dan akhirnya ia pergi juga ke Gayāsīsa, ia
makan dan makan, namun ia tidak lupa untuk kembali ke Weluwana pada
waktunya. Bagaimanapun, ia tidak dapat terus merahasiakan hal itu;
sedikit demi sedikit, bhikkhu yang lain mulai mengetahui ia selalu
pergi ke Gayāsīsa dan menikmati makanan yang disediakan untuk
Devadatta. Karena itu, teman-temannya bertanya kepadanya, “Benarkah
apa yang dikatakan mereka, bahwa engkau menghibur diri dengan makanan
yang dipersembahkan untuk Devadatta?”

“Siapa yang mengatakan hal itu?”

“Si anu yangmengatakannya.”

“Benar, Awuso, saya pergi ke Gayāsīsa dan makan di sana. Namun bukan
Devadatta yang memberikan makanan kepadaku, bhikkhu lain yang
melakukannya.”

“Awuso, Devadatta adalah musuh Buddha; dengan akal liciknya, ia
mendapatkan kesetiaan Ajātasattu, dan dengan cara jahat, ia memperoleh
keuntungan dan penghormatan untuk dirinya. Namun, kamu yang mengambil
sumpah berdasarkan ajaran yang akan membawa nibbana bagi kita, makan
makanan yang diperoleh Devadatta dengan cara-cara yang tidak benar.
Mari, kami akan membawamu menghadap Sang Guru.” Kemudian mereka
membawa bhikkhu itu ke Balai Kebenaran.

Ketika Sang Guru melihat kedatangan mereka, Beliau bertanya, “Para
Bhikkhu, mengapa bhikkhu ini dibawa bertentangan dengan kehendaknya?”

“Bhante, bhikkhu ini, setelah mengucapkan sumpah di bawah
pengawasan-Mu, makan makanan yang diperoleh Devadatta dengan cara-cara
yang tidak benar.”

“Benarkah apa yang mereka katakan, bahwa engkau makan makanan yang
diperoleh Devadatta dengan cara yang tidak benar?”

“Bukan Devadatta yang memberikan makanan itu kepadaku, Bhante,
melainkan orang lain.”

“Jangan membuat dalih di sini, Bhikkhu,” kata Sang Guru. “Devadatta
adalah pemimpin yang buruk dengan prinsip yang salah. Oh, bagaimana
engkau bisa, setelah mengambil sumpah di sini, makan makanan dari
Devadatta, saat engkau menjalankan ajaran-Ku? Namun, engkau memang
selalu mudah dipengaruhi, selalu mengikuti perkataan setiap orang yang
engkau temui.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau
menceritakan kisah kelahiran lampau ini. Sekali waktu ketika
Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai
menterinya. Di saat itu, raja memiliki seekor gajah kerajaan yang
bernama Mahilamukha (Paras

Gadis), yang sangat bijaksana dan penuh kebaikan, ia tidak pernah
melukai siapa pun.

Suatu malam, beberapa orang pencuri berkumpul di dekat kandang gajah
itu, mereka duduk sambil membicarakan rencana mereka : — “Inilah cara
untuk menerobos masuk ke dalam sebuah rumah; dan ini adalah cara
mendobrak masuk melalui dinding rumah; sebelum membawa kabur
barang-barang curian, masuk dengan cara menerobos atau pun mendobrak
dinding harus jelas dan terbuka, seperti melalui darat atau dengan
menyeberangi sungai. Dalam membawa kabur barang-barang itu, jangan
sampai terjebak dalam pembunuhan, di mana kamu tidak akan bisa melawan
lagi. Seorang pencuri harus membuang semua kebaikan dan kebajikan yang
ia miliki, agar ia cukup kejam. Ia harus menjadi orang yang penuh
dengan kebengisan dan kekerasan.” Setelah saling mengajari satu sama
lain dengan nasihat-nasihat itu, mereka membubarkan diri.

Mereka datang lagi keesokan harinya, dan beberapa hari setelah itu,
mereka selalu mengadakan percakapan yang sama sehingga akhirnya gajah
itu menyimpulkan bahwa mereka datang untuk memberikan petunjuk
kepadanya, bahwa ia harus berubah menjadi kejam, bengis dan penuh
kekerasan. Dan seperti itulah ia berubah. Begitu pelatihnya muncul di
pagi hari, gajah itu melilit lelaki itu dengan belalainya dan
melemparkannya ke tanah hingga ia meninggal. Dengan cara yang sama ia
memperlakukan orang kedua, ketiga dan setiap orang yang mendekatinya.

Berita itu disampaikan kepada Raja, bahwa Mahilamukha telah gila dan
membunuh setiap orang yang terlihat olehnya. Raja segera mengundang
Bodhisatta dan berkata, “Pergilah, wahai Yang bijaksana, temukan apa
yang telah menyesatkannya.”

Bodhisatta pergi ke tempat gajah itu berada, ia memastikan bahwa gajah
itu tidak menunjukkan tanda-tanda ada bagian tubuhnya yang sakit. Saat
memikirkan kembali semua kemungkinan yang menyebabkan perubahan
tersebut, ia tiba pada kesimpulan bahwa gajah itu pasti mendengar
pembicaraan orang-orang yang berada di dekatnya. Gajah itu mengira
mereka sedang memberikan petunjuk kepadanya, hal inilah yang
menyesatkan hewan tersebut. Karena itu, ia bertanya kepada penjaga
gajah tersebut apakah belakangan ini ada orang yang melakukan
percakapan di dekat kandang gajah pada malam hari. “Ada, Tuanku,”
jawab penjaga gajah itu, “beberapa orang pencuri datang kemari dan
melakukan pembicaraan.”

Kemudian Bodhisatta pergi menghadap raja dan berkata, “Tidak ada yang
salah dengan gajah itu, Paduka, ia disesatkan oleh pembicaraan
beberapa orang pencuri.”

“Baiklah, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Undanglah orang-orang yang penuh dengan kebaikan, para guru dan
brahmana untuk duduk di dekat kandangnya dan membicarakan tentang
kebaikan.”

“Lakukanlah hal itu, Temanku,” kata Raja. Bodhisatta kemudian
mengundang orang-orang yang penuh dengan kebaikan, para guru dan
brahmana ke kandang gajah tersebut, dan meminta mereka untuk
membicarakan hal-hal yang baik. Maka mereka semua, duduk didekat gajah
tersebut, membicarakan hal berikut ini, “Jangan menganiaya maupun
membunuh. Orang baik harus tahan terhadap penderitaan, tetap penuh
cinta kasih serta murah hati.” Mendengar kata-kata tersebut, gajah itu
berpikir mereka pasti memaksudkan itu sebagai bimbingan baginya, ia
kemudian memutuskan untuk berubah menjadi baik. Maka ia pun berubah
menjadi baik kembali.

“Baiklah, Temanku,” kata Raja kepada Bodhisatta, “sudahkah gajah itu
berubah menjadi baik sekarang?”

“Ya, Paduka,” kata Bodhisatta, “berterimakasihlah kepada mereka yang
bijaksana dan penuh kebaikan sehingga gajah yang telah tersesat itu
kembali menjadi dirinya lagi.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut,
ia mengulangi syair berikut ini : —

Awalnya, dengan mendengarkan pembicaraan yang tidak benar dari para pencuri

Mahilamukha berubah, ia melukai dan membunuh ;

Akhirnya, dengan mendengar kata-kata yang mulia dari mereka yang bijaksana,

gajah kerajaan itu berubah menjadi baik kembali.



Raja itu berkata, “Ia bahkan mampu membaca pikiran hewan!” Raja
menganugerahkan penghargaan besar kepada Bodhisatta. Setelah hidup
hingga usia yang cukup tua, baik raja maupun Bodhisatta meninggal
dunia dan terlahir di alam bahagia sesuai dengan apa yang telah mereka
perbuat. Sang Guru berkata, “Di kehidupan yang lampau, engkau juga
mengikuti perkataan setiap orang yang engkau temui, Bhikkhu; saat
mendengar ucapan pencuri, engkau mengikuti perkataan mereka; lalu
mendengar kata-kata para bijaksana dan orang-orang baik, kamu juga
mengikutinya.”

Setelah uraian-Nya berakhir, Beliau mempertautkan dan menjelaskan
tentang kelahiran tersebut dengan berkata, “Bhikkhu yang berkhianat
ini adalah Mahilamukha di masa itu, Ānanda adalah sang raja, dan Saya
sendiri adalah menteri tersebut.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Leave a Comment
May 4, 2011
TITHA-JĀTAKA
Filed under: 001-050,Uncategorized — hansen @ 5:42 am
Tags: jataka 25, titha jataka



pict source

“Gantilah tempatnya olehmu,” dan seterusnya . Kisah ini diceritakan
oleh Sang Guru ketika Beliau berada di Jetawana, mengenai seorang
mantan tukang emas yang telah menjadi bhikkhu dan tinggal bersama sang
Panglima Dhamma (Sāriputta).

Hanya seorang Buddha yang memiliki pemahaman isi hati dan dapat
membaca pikiran manusia. Oleh karena itu, tanpa kekuatan itu, sang
Panglima Dhamma hanya dapat memahami sedikit isi hati dan pikiran dari
teman satu ruangannya, memberikan objek perenungan terhadap noda
pikiran kepadanya. Inilah alasan mengapa objek itu tidak begitu
bermanfaat baginya. Menurut cerita yang disampaikan secara turun
temurun, ia dilahirkan selama lima ratus kali berturut-turut sebagai
seorang tukang emas. Akibat terus menerus melihat keindahan emas murni
dalam waktu yang begitu lama, objek perenungan yang diberikan oleh
Thera Sāriputta menjadi tidak begitu membantunya. Ia menghabiskan
waktu empat bulan tanpa mendapatkan kemajuan apa pun selain yang
berhasil dicapainya saat permulaan latihan. Mengetahui bahwa ia tidak
mampu membantu teman satu ruangannya mencapai tingkat kesucian Arahat,
sang Panglima Dhamma berpikir, “Tidak ada orang lain lagi, selain
Buddha sendiri, yang mampu memperbaiki hal ini. Saya akan membawanya
menemui Sang Buddha.” Maka saat fajar menyingsing, ia membawa bhikkhu
itu menemui Sang Buddha.

“Ada apa, Sāriputta?” tanya Sang Guru, “Apa yang membuatmu datang
bersama bhikkhu ini?”

“Bhante, saya memberikan sebuah objek perenungan untuknya. Setelah
menghabiskan waktu empat bulan, ia masih belum mencapai kemajuan apa
pun selain hasil yang dicapainya di awal pelatihan; Saya membawanya
menemui Anda, karena berpikir tidak ada orang lain selain seorang
Buddha yang dapat mengubah keadaan ini.”

“Objek meditasi apa yang engkau berikan padanya, Sāriputta?”

“Objek perenungan terhadap noda pikiran, Bhagawan.”

“Sāriputta, engkau masih belum memiliki kemampuan untuk mengetahui isi
hati dan pikiran seseorang. Engkau boleh pergi terlebih dahulu, dan
kembali di sore hari untuk menjemput teman satu ruanganmu ini.”

Setelah meminta thera senior itu pergi, Sang Guru memberikan jubah
dalam dan luar yang bagus kepadanya, membuat bhikkhu itu tetap berada
di sisinya saat Beliau pergi ke kota melakukan pindapata, melihat
Beliau menerima berbagai macam makanan yang didanakan. Saat kembali ke
wihara, ia dikelilingi oleh para bhikkhu, sementara Sang Bhagawan
beristirahat siang di ruangan yang wangi (gandhakuṭi). Di sore
harinya, Sang Guru bersama bhikkhu itu berjalan di sekitar wihara
tersebut, Beliau menciptakan sebuah kolam dengan rumpun bunga teratai
di dalamnya, dimana teratai itu terlihat sangat indah. “Duduklah di
sini, Bhikkhu,” kata Beliau, “dan tataplah bunga ini.” Meninggalkan
bhikkhu itu disana, Beliau kembali ke ruangan-Nya yang wangi.

Bhikkhu itu terus menerus menatap bunga itu. Sang Bhagawan membuat
bunga tersebut layu. Saat bhikkhu itu masih menatap bunga tersebut,
bunga tersebut mulai melayu; kelopaknya berguguran, mulai dari bagian
pinggirnya, sejenak kemudian, semua kelopaknya menghilang, berikutnya,
benang sari bunga tersebut mulai berjatuhan hingga bagian yang tersisa
hanyalah jantung bunga. Melihat proses tersebut, bhikkhu ini berpikir,
“Walaupun awalnya bunga ini begitu cantik dan segar; namun akhirnya,
warnanya pudar, kelopak dan benang sarinya berguguran, hingga yang
tersisa hanyalah jantung bunga. Jika pembusukan dapat menimpa bunga
teratai yang seindah ini; apa yang tidak akan menimpa jasmaniku? Semua
benda yang terbentuk dari penggabungan beberapa komponen adalah tidak
kekal adanya!” Dengan pikiran tersebut, ia mencapai pencerahan.

Mengetahui pikiran bhikkhu itu telah tercerahkan, Sang Guru yang
sedang duduk di ruangan wangi itu mengirimkan seberkas bentuk yang
mirip dirinya ke tempat tersebut, dan mengucapkan syair ini : —

Buanglah rasa cinta terhadap diri sendiri, dengan tangan yang kau
gunakan untuk memetik bunga teratai di musim gugur. Persiapkan hatimu
untuk ini, tidak untuk yang lainnya; Jalan menuju kedamaian yang
sempurna, dan menuju pemadaman (terhadap nafsu keinginan) yang
diajarkan oleh Sang Buddha.

Pada akhir syair ini, bhikkhu itu mencapai tingkat kesucian Arahat.
Dengan pikiran bahwa ia tidak akan dilahirkan lagi, tidak dipusingkan
oleh keadaan kehidupan dalam bentuk seperti apa pun setelah ini,
dengan sepenuh hati ia mengucapkan syair berikut ini :

Ia yang hidup dengan pikiran yang matang;

ia yang telah bersih dan bebas dari segala jenis kekotoran,

dengan raga yang terakhir ini; Ia menjalani kehidupan yang suci,

adanya pemahaman yang mendalam, menjadikan ia

sebagai seorang raja yang berkuasa; —

Ia, seperti bulan yang pada akhirnya memenangkan

jalannya dari cengkeraman Rāhu, telah memenangkan pembebasan yang tertinggi.

Kebodohan yang menutupiku, yang dibentuk oleh

khayalan yang timbul akibat adanya kegelapan,

telah ditolak olehku ; —

Seperti, tertipu oleh ribuan sinar yang disorotkan oleh matahari,

yang menghiasi langit dengan siraman cahaya.

Setelah syair dan ungkapan kebahagiaan yang baru saja diucapkannya, ia
menemui Sang Bhagawan dan memberikan penghormatan kepada Beliau. Thera
Sāriputta yang datang setelahnya, memberikan penghormatan kepada Sang
Guru, dan pergi bersama teman satu ruangannya. Saat para bhikkhu
mendengar kabar ini, mereka semua berkumpul di Balai Kebenaran, duduk
sambil memuji kebajikan Yang Maha Bijaksana, mereka berkata, “Awuso,
karena tidak mengetahui isi hati dan pikiran manusia, Thera Sāriputta
tidak mengetahui kecenderungan sifat teman satu ruangannya. Namun Sang
Guru mengetahuinya. Hanya dalam waktu satu hari, Beliau mampu
mengarahkan bhikkhu itu mencapai tingkat kesucian Arahat, sekaligus
mencapai pengetahuan sempurna. Oh, betapa luar biasanya kemampuan yang
mengagumkan dari seorang Buddha!”

Sang Guru memasuki balai tersebut dan duduk di tempat yang telah
disediakan untuknya, bertanya, “Apa topic pembicaraan pertemuan ini,
para Bhikkhu?”

“Tidak ada yang lain, Bhante, selain bahwa Engkau memiliki pemahaman
tentang isi hati dan dapat membaca pikiran dari bhikkhu yang tinggal
bersama sang Panglima Dhamma.”

“Hal ini bukan sesuatu yang mengagumkan, para Bhikkhu. Sebagai seorang
Buddha, memang sudah seharusnya saya mengetahui kecenderungan sifat
bhikkhu itu. Di kehidupan yang lampau saya juga mengetahui hal itu
dengan baik.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Beliau
menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu, Brahmadatta memerintah di Benares. Saat itu, Bodhisatta
terlahir sebagai penasihat raja dalam urusan pemerintahan dan
spiritual. Suatu ketika, para penduduk memandikan seekor kuda liar di
tempat pemandian kuda kerajaan. Saat tukang kuda membawa kuda kerajaan
mandi di tempat pemandian tersebut, kuda itu merasa terhina sehingga
ia menolak untuk mandi di tempat itu. Maka tukang kuda menghadap raja
dan berkata, “Paduka, kuda kerajaan menolak untuk mandi.” Raja meminta
Bodhisatta menghadap dan berkata padanya, “Pergilah, wahai Yang bijak,
dan temukan penyebab mengapa hewan tersebut tidak mau masuk ke dalam
air saat tukang kuda membawanya ke tempat pemandian.”

“Baik, Paduka,” jawab Bodhisatta. Ia segera pergi ke sisi perairan
itu. Setibanya di sana, ia memeriksa kuda tersebut, menemukan bahwa
kuda itu tidak mempunyai luka di bagian manapun dari tubuhnya. Ia
mencoba memprediksikan penyebabnya, akhirnya ia mengambil kesimpulan
bahwa ada kuda lain yang telah mandi di tempat tersebut, sehingga kuda
kerajaan merasa terhina dan tidak mau masuk ke dalam air. Ia bertanya
kepada tukang kuda itu hewan apa yang telah mereka mandikan di sana
sebelum ini.

“Seekor kuda lain, Tuanku, — seekor hewan yang biasa-biasa saja.” “Ah,
karena rasa cinta kepada dirinya sendiri, ia merasa tersinggung
sehingga tidak mau masuk ke dalam air,” kata Bodhisatta kepada dirinya
sendiri, “hal yang harus dilakukan adalah memandikan dia di tempat
lain.” Maka ia berkata kepada tukang kuda itu, “Orang akan merasa
bosan, Temanku, bahkan tentang pemilihan tempat, jika ia selalu
mendapatkan hal yang sama. Ini juga terjadi pada kuda ini. Ia telah
dimandikan di sini sebegitu banyak kalinya sehingga tak terhitung
lagi. Bawalah ia ke tempat pemandian yang lain, mandikan dan beri ia
minum di sana.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengucapkan
syair berikut ini :

Gantilah tempatnya olehmu, dan biarkan kuda itu minum.

Kadang di sini, kadang di sana, dengan selalu mengganti tempatnya.

Bahkan nasi-susu dapat memuakkan bagi manusia pada akhirnya.

Setelah mendengar perkataannya, mereka membawa kuda itu ke tempat yang
lain, di sana ia minum dan mandi tanpa kesulitan. Saat tukang kuda
memandikan kuda kerajaan tersebut setelah memberinya minum, Bodhisatta
kembali untuk menghadap raja. “Baiklah,” kata Raja, “sudahkah kudaku
minum dan mandi, Teman?”

“Sudah, Paduka.”

“Mengapa ia menolak untuk melakukan hal itu sebelumnya?”

“Karena alasan berikut ini,” kata Bodhisatta, dan menceritakan
keseluruhan kisah itu kepada Raja.

“Orang ini benar-benar pintar,” kata raja, “ia bahkan bisa membaca
pikiran seekor hewan.” Raja kemudian memberikan penghargaan kepada
Bodhisatta. Setelah meninggal, ia terlahir di alam bahagia sesuai
dengan hasilperbuatannya. Demikian juga dengan Bodhisatta, setelah
meninggal ia terlahir kembali di alam bahagia, sesuai dengan hasil
perbuatannya semasa hidup.

____________________

Setelah uraian itu berakhir, Beliau mengulangi apa yang telah
dikatakan-Nya bahwa kecenderungan bhikkhu itu di masa lampau sama
seperti saat sekarang ini. Sang Guru mempertautkan dan menjelaskan
tentang kelahiran itu dengan mengatakan, “Bhikkhu ini adalah kuda
kerajaan itu, Ānanda merupakan sang raja, dan Saya sendiri adalah
menteri tersebut.”

sumber: ITC, Jataka Vol. I

Comments (1)
April 30, 2011
ĀYĀCITABHATTA-JĀTAKA (Jataka 19)
Filed under: 001-050 — hansen @ 6:09 am
Tags: ayacitabhatta jataka, jataka 19



pict source

“Pikirkan tentang kehidupan setelah ini,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada diJetawana,
mengenai persembahan korban karena sumpah yang diucapkan kepada para
dewa. Menurut cerita yang disampaikan secara turun temurun, dewasa
ini, penduduk yang akan melakukan perjalanan untuk berdagang, biasanya
membunuh makhluk hidup dan mempersembahkan mereka sebagai korban
kepada para dewa, dan memulai perjalanannya setelah mengucapkan sumpah
seperti ini — “Jika kami kembali dengan selamat dan membawa
keuntungan, kami akan membunuh korban yang lain untukmu.”

Saat mereka kembali dari perjalanan itu dan membawa keuntungan,
pikiran bahwa ini adalah karena bantuan para dewa, membuat mereka
membunuh lebih banyak makhluk hidup dan mempersembahkan korban-korban
itu agar bebas dari sumpah yang telah mereka ucapkan.

Saat para bhikkhu mengetahui hal ini, mereka bertanya pada Sang
Bhagawan, “Apakah ada kebaikan dengan melakukan hal ini, Bhante?”

Sang Bhagawan pun kemudian menceritakan kisah kelahiran lampau ini.

____________________

Sekali waktu di Negeri Kāsi, seorang penjaga sebuah desa kecil membuat
janji untuk memberikan korban kepada dewa pohon dari sebuah pohon
beringin yang tumbuh di dekat pintu gerbang desa. Sesudahnya, saat
kembali, ia membunuh sejumlah makhluk hidup dan pergi ke bawah pohon
agar ia terlepas dari sumpah yang telah diucapkannya. Namun sang dewa
pohon, dengan berdiri di cabang pohon tersebut, mengulangi syair
berikut ini:

Pikirkan tentang kehidupan setelah ini saat engkau mencari
‘pembebasan’; Pembebasan yang sekarang ini (engkau lakukan) adalah
merupakan suatu ikatan.

Tidak dengan cara demikian, ia yang bijaksana dan penuh kebaikan
membebaskan diri mereka sendiri;

Bagi mereka yang bodoh, kebebasan mereka berakhir dalam ikatan.

Setelah itu, para manusia menahan diri dalam melakukan pembunuhan, dan
dengan berjalan di jalan yang benar, mereka kemudian terlahir kembali
di alam dewa.

____________________

Saat uraian ini berakhir, Sang Guru mempertautkan kedua kisah itu, dan
menjelaskan tentang kelahiran itu dengan berkata, “Saya adalah dewa
pohon di masa itu.”